WARNING! Link berisi dokumentasi video mengenai kematian, kekerasan tingkat tinggi, dan tindakan ekstrem lainnya. Disarankan menonton dengan hati-hati dan bijak.
REKAMAN VIDEO:
Jika saat klik link mengarah ke situs lain atau ke iklan, langsung tekan kembali (back) dan klik ulang linknya untuk melihat video tanpa sensor.
Kecelakaan saat melakukan aksi berbahaya atau aktivitas ekstrem bukanlah hal baru. Namun, ada beberapa insiden yang begitu mengejutkan hingga meninggalkan kesan mendalam dalam ingatan masyarakat. Salah satunya dikenal dengan nama “Split Face Diving Accident”, atau di Indonesia sering disebut “Lompat Sesal 2009”.
Insiden ini terjadi pada Juni 2009 di kawasan Manara Promenade, tepatnya di wilayah Al-Rawsha, Beirut, Lebanon. Lokasi tersebut merupakan jalur pejalan kaki tepi laut yang populer karena pemandangannya yang indah, namun juga dikenal sebagai tempat berbahaya bagi para remaja yang sering melakukan aksi terjun dari ketinggian.
Di area ini, terdapat tebing beton setinggi lebih dari 40 kaki yang langsung menghadap ke Laut Mediterania. Di bawahnya terdapat struktur beton dan anjungan pancing yang sebagian telah terkikis, dengan material keras yang terbuka dan berbahaya.
Pada minggu kedua bulan Juni 2009, dua remaja laki-laki berusia sekitar 16 tahun mencoba melakukan aksi terjun dari ketinggian tersebut. Salah satu dari mereka berhasil mendarat dengan selamat.
Aksi itu direkam oleh seorang gadis muda menggunakan ponsel Nokia, yang pada masa itu masih menjadi perangkat umum untuk merekam video sederhana.
Namun, ketika remaja kedua bersiap melompat, situasi berubah drastis. Ia terpeleset saat melakukan lompatan dan jatuh dengan posisi yang salah, mengenai struktur keras di bawah sebelum akhirnya terjatuh ke laut.
Para saksi mata langsung berteriak panik dan meminta bantuan dalam bahasa Arab. Beberapa perenang dan nelayan segera mendekat untuk menolong dan mengevakuasi korban ke darat.
Korban segera dibawa ke Rumah Sakit Universitas Amerika di Beirut, yang jaraknya hanya beberapa menit dari lokasi kejadian. Di ruang gawat darurat, ia masih dalam keadaan sadar dan bernapas, meskipun mengalami cedera serius pada bagian wajah dan kepala.
Tenaga medis berusaha menstabilkan kondisinya, memastikan jalan napas tetap terbuka, dan mencegah cedera lebih lanjut. Rekaman singkat dari rumah sakit sempat beredar di internet, menimbulkan berbagai spekulasi dan kesalahpahaman tentang penanganan medis yang dilakukan.
Dalam kondisi seperti ini, prosedur medis ideal mencakup:
Meski telah mendapatkan perawatan intensif, remaja tersebut meninggal dunia dua hari kemudian di ruang ICU. Penyebab kematiannya adalah pendarahan otak internal dan cedera tulang belakang akibat benturan keras.
Banyak warga Lebanon merasa prihatin dengan tragedi ini. Donasi dikumpulkan untuk membantu keluarga korban, dan kisah ini menjadi pengingat keras akan bahaya melakukan aksi ekstrem tanpa pengamanan.
“Lompat Sesal 2009” bukan sekadar video viral atau cerita mengejutkan. Ini adalah kisah nyata tentang seorang remaja yang kehilangan nyawanya akibat satu keputusan berisiko.
Tragedi ini mengajarkan bahwa:
Hingga kini, insiden tersebut masih dikenang sebagai salah satu kecelakaan paling mengerikan dalam sejarah internet, sekaligus sebagai peringatan tentang pentingnya berpikir sebelum bertindak.
MEMBAHAS TENTANG KEJADIAN KRIMINAL, TRAGEDI, DAN BERBAGAI MACAM PERISTIWA MENGERIKAN YANG TERJADI DI BERBAGAI BELAHAN DUNIA.