Seorang siswa berusia 16 tahun ditangkap polisi setelah diduga menyerang seorang guru perempuan menggunakan kapak di sebuah sekolah swasta di Kuching, Sarawak, Malaysia, pada 21 Oktober 2026. Kasus ini menjadi sorotan setelah rekaman yang diduga memperlihatkan aksi penyerangan tersebut tersebar luas di media sosial.
Peristiwa itu semakin menyita perhatian karena pelaku diduga menyiarkan tindakannya secara langsung melalui Facebook selama sekitar 12 menit. Remaja tersebut disebut menggunakan ponsel yang dipasang di bagian kepalanya untuk merekam pergerakannya sebelum penyerangan terjadi.
Kepolisian Sarawak menerima laporan darurat sekitar pukul 08.03 waktu setempat. Berdasarkan informasi awal, seorang siswa dilaporkan membawa petasan ke lingkungan sekolah sebelum diduga menyerang seorang guru perempuan menggunakan kapak.
Pelaksana tugas Komisaris Polisi Sarawak, Saifullizan Ishak, membenarkan penangkapan siswa berusia 16 tahun tersebut. Polisi kini melakukan penyelidikan untuk mengungkap penyebab kejadian, menyusun kronologi secara lengkap, serta mengumpulkan bukti-bukti yang diperlukan.
“Kami sedang melakukan penyelidikan mendetail untuk mengidentifikasi penyebab insiden tersebut serta mengumpulkan bukti,” ujarnya, seperti dikutip The Straits Times.
Guru perempuan yang menjadi korban dilaporkan mengalami luka pada bagian tangan. Namun, informasi mengenai kondisi terkini korban dan tingkat keparahan lukanya belum diketahui secara pasti.
Rekaman Penyerangan Beredar di Media Sosial
Kasus ini semakin ramai diperbincangkan setelah video yang diduga merekam rangkaian kejadian tersebut menyebar di media sosial.
Menurut laporan media Malaysia yang dikutip CNA pada 22 Oktober 2026, dalam salah satu rekaman yang beredar, remaja tersebut terlihat berada di toilet sekolah sambil mengeluarkan kapak dan korek api dari tasnya.
Ia diduga menggunakan ponsel yang dipasang di bagian kepala atau dahinya untuk merekam aktivitasnya. Setelah bersiap, remaja itu kemudian terlihat berlari menuju ruang kelas tempat dugaan penyerangan berlangsung.
Rekaman menjadi tidak stabil ketika keributan terjadi. Gambar kemudian berubah menjadi hitam, sementara suara teriakan masih terdengar.
Selain video yang diduga berasal dari siaran langsung Facebook, sebuah rekaman kamera pengawas atau CCTV dari ruang kelas juga beredar di media sosial. Video tersebut diduga memperlihatkan siswa itu memasuki kelas dan mendekati seorang guru sambil membawa kapak.
Guru perempuan tersebut kemudian terlihat berusaha menahan atau mengendalikan pelaku dengan bantuan seorang siswa lainnya.
Rekaman itu memicu perhatian publik, terutama karena dugaan penyerangan terjadi di lingkungan pendidikan yang seharusnya menjadi tempat aman bagi guru dan siswa untuk menjalankan kegiatan belajar mengajar.
Komisi Komunikasi dan Multimedia Malaysia (MCMC) dilaporkan telah menurunkan rekaman siaran langsung yang beredar.
Pelaku Dibawa ke Rumah Sakit untuk Pemeriksaan
Setelah kejadian, polisi menangkap remaja berusia 16 tahun tersebut. Ia kemudian ditempatkan di bangsal psikiatri Rumah Sakit Umum Sarawak untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.
Namun, penempatan tersebut tidak serta-merta menunjukkan bahwa remaja itu memiliki gangguan kejiwaan ataupun bahwa kondisi tertentu menjadi penyebab tindakannya. Hingga kini, belum ada keterangan resmi yang memastikan hasil pemeriksaan tersebut.
Polisi masih mendalami berbagai bukti dan informasi untuk mengetahui latar belakang penyerangan, termasuk alasan remaja tersebut membawa kapak ke sekolah dan merekam pergerakannya.
Motif penyerangan juga belum diketahui secara pasti. Belum ada keterangan resmi yang memastikan apakah kejadian tersebut dipicu persoalan pribadi, konflik di sekolah, atau faktor lainnya.
Kepolisian Sarawak dijadwalkan menggelar konferensi pers pada 27 Oktober 2026 untuk memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai perkembangan kasus tersebut.
Menteri Sarawak Minta Publik Tidak Menghakimi Pelaku
Di tengah perhatian publik terhadap kasus ini, Menteri Pembangunan Wanita, Anak dan Kesejahteraan Masyarakat Sarawak, Fatimah Abdullah, meminta masyarakat menyikapi peristiwa tersebut secara hati-hati.
Dalam unggahan Facebook pada Kamis, 22 Oktober 2026, Fatimah menegaskan bahwa kekerasan yang melibatkan senjata harus ditangani secara serius. Keselamatan guru, siswa, dan seluruh komunitas sekolah, menurutnya, harus menjadi prioritas.
Meski demikian, ia mengingatkan masyarakat agar tidak terburu-buru mengecam, memberikan label negatif, atau mempermalukan remaja tersebut tanpa memahami keadaan yang melatarbelakangi kejadian.
Fatimah menilai bahwa penanganan kasus yang melibatkan anak muda perlu mempertimbangkan pertanggungjawaban atas tindakan yang dilakukan sekaligus kebutuhan akan pendampingan yang sesuai.
“Setiap anak berhak untuk merasa dihargai, didengarkan, dan didukung. Ketika seorang anak muda berkata, ‘Saya tidak punya siapa-siapa,’ respons kita seharusnya adalah membantu mereka mendapatkan dukungan yang mereka butuhkan, bukan justru memperdalam rasa keterasingan mereka,” tulisnya.
Ia menekankan bahwa pendekatan yang mengedepankan kepedulian bukan berarti mengabaikan tanggung jawab atas tindakan kekerasan. Proses hukum dan upaya menjaga keamanan lingkungan sekolah tetap harus berjalan, sementara remaja yang terlibat perlu diperlakukan secara bermartabat dan mendapatkan bimbingan yang tepat.
Fatimah juga meminta masyarakat berhenti menyebarkan video penyerangan tersebut. Penyebaran rekaman, menurutnya, berpotensi menambah tekanan psikologis bagi pihak-pihak yang terlibat, memicu perundungan di dunia maya, serta melanggar privasi mereka.
“Tanggung jawab kita mencakup dua hal: memastikan sekolah tetap menjadi tempat yang aman bagi guru dan siswa, serta memastikan bahwa kaum muda yang sedang menghadapi kesulitan mendapatkan kesempatan untuk belajar, memperoleh dukungan yang tepat, dan melangkah maju secara konstruktif,” tegasnya.
Penyelidikan Masih Berlangsung
Kasus penyerangan guru menggunakan kapak di Kuching ini kembali menyoroti pentingnya keamanan di lingkungan pendidikan serta cara masyarakat merespons peristiwa kekerasan yang melibatkan anak di bawah umur.
Di satu sisi, dugaan penyerangan tersebut harus ditangani secara serius demi melindungi korban dan memastikan keamanan sekolah. Di sisi lain, penyebab kejadian perlu diungkap melalui penyelidikan yang menyeluruh, bukan berdasarkan spekulasi yang berkembang di media sosial.
Hingga informasi ini disusun, motif penyerangan belum terungkap secara resmi. Kondisi korban dan hasil pemeriksaan terhadap remaja yang ditangkap juga masih menunggu keterangan lebih lanjut.
DOKUMENTASI VIDEO
⚠️ WARNING !Tautan berisi dokumentasi video/foto mengenai kematian, kekerasan tingkat tinggi, dan peristiwa tragis lainnya. Disarankan untuk melihat dengan hati-hati dan bijak.
⚠️ CATATAN !Jika saat klik tautan mengarah ke situs lain atau ke iklan, langsung tekan kembali (back) dan klik ulang tautannya untuk melihat video/foto tanpa sensor.