Kematian seorang petugas satuan pengamanan (satpam) di kawasan objek vital Waduk Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, menyita perhatian publik. Sumarna (40) ditemukan meninggal dunia dalam kondisi mengambang di perairan kawasan Tanggul Kayat dengan kedua tangannya terborgol ke belakang pada Jumat (24/7/2026).

Hingga Selasa (28/7/2026), penyebab pasti kematian korban masih menjadi misteri. Kepolisian belum menyimpulkan apakah terdapat unsur tindak pidana dalam peristiwa tersebut dan masih menunggu hasil lengkap otopsi untuk mengungkap penyebab kematian Sumarna.
Peristiwa bermula ketika Sumarna menjalankan tugas piket malam sebagai petugas keamanan di kawasan Waduk Jatiluhur. Saat itu korban diketahui masih mengenakan seragam dinas satpam seperti biasa.
Sekitar pukul 03.00 WIB, rekan-rekan kerjanya mulai kehilangan kontak dengan korban. Berbagai upaya dilakukan untuk menghubunginya, namun tidak membuahkan hasil. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran karena Sumarna tak kunjung kembali setelah menjalankan tugas jaga malam.
Rekan kerja bersama kepala satuan pengamanan kemudian melakukan pencarian di sejumlah titik di kawasan waduk hingga Jumat pagi. Pencarian akhirnya membuahkan hasil ketika menjelang siang tubuh korban ditemukan mengambang di kawasan Tanggul Kayat.
Korban pertama kali terlihat oleh petugas keamanan yang kemudian melaporkan temuan tersebut kepada warga dan aparat kepolisian. Saat dievakuasi, tubuh Sumarna berada dalam posisi telungkup, masih mengenakan seragam satpam, serta kedua tangannya terborgol ke belakang.
Kasat Reskrim Polres Purwakarta AKP I Made Purwantara membenarkan kondisi korban saat ditemukan. Ia mengatakan polisi masih melakukan penyelidikan secara menyeluruh dengan mengumpulkan barang bukti serta memeriksa sejumlah saksi untuk mengungkap penyebab pasti kematian korban.
Jenazah Sumarna sempat dibawa ke RSUD Bayu Asih Purwakarta untuk pemeriksaan awal sebelum dirujuk ke Rumah Sakit Sartika Asih Bandung pada Jumat sekitar pukul 18.00 WIB guna menjalani proses otopsi. Setelah pemeriksaan selesai, jenazah diserahkan kepada pihak keluarga untuk dimakamkan.
Dalam proses penyelidikan, polisi juga mendalami aktivitas terakhir korban sebelum hilang kontak. Salah satu informasi yang berkembang menyebutkan bahwa Sumarna diduga sempat menegur sekelompok orang yang melakukan aksi vandalisme di kawasan Waduk Jatiluhur.
Seorang warga bernama Warta mengatakan korban dikenal aktif menjaga kawasan tersebut dari aksi perusakan fasilitas umum. Menurutnya, Sumarna pernah melarang orang yang hendak mencoret-coret fasilitas di sekitar waduk. Bahkan, aksi vandalisme disebut kembali terjadi beberapa waktu setelah peneguran tersebut.
Meski demikian, polisi menegaskan bahwa informasi tersebut masih sebatas dugaan dan belum dapat dipastikan memiliki kaitan dengan kematian korban.
Di media sosial juga sempat beredar sebuah video yang memperlihatkan aksi vandalisme di kawasan jalan tanggul. Rekaman itu memperlihatkan sejumlah coretan pada fasilitas umum disertai suara seorang pria yang mengecam aksi tersebut dan meminta agar lokasi dibersihkan. Polisi memastikan video tersebut bukan berasal dari akun media sosial milik korban, melainkan milik salah seorang rekannya.
Sejauh ini, Polres Purwakarta telah melakukan olah tempat kejadian perkara, mengamankan sejumlah barang bukti, termasuk telepon genggam korban, serta memeriksa rekaman kamera pengawas (CCTV) di kawasan Perum Jasa Tirta II, tempat korban bertugas.
Sebanyak 12 saksi, yang terdiri atas warga dan rekan kerja korban, juga telah dimintai keterangan. Penyidik masih terus melakukan pendalaman terhadap seluruh informasi yang diperoleh guna mengungkap rangkaian peristiwa sebelum korban ditemukan meninggal dunia.
Terkait berbagai spekulasi yang beredar di media sosial mengenai dugaan keterlibatan kelompok tertentu, polisi menegaskan hingga saat ini belum menemukan bukti yang mengarah pada dugaan tersebut.
Pihak keluarga menilai kondisi korban yang ditemukan dengan tangan terborgol ke belakang merupakan kejanggalan yang harus diusut secara tuntas. Paman korban, Ocid, berharap kepolisian dapat mengungkap penyebab kematian Sumarna melalui proses hukum yang transparan dan profesional.
Keluarga juga telah memberikan persetujuan untuk dilakukan autopsi agar penyebab pasti kematian korban dapat diketahui secara ilmiah. Mereka berharap hasil pemeriksaan forensik mampu menjawab berbagai pertanyaan yang hingga kini masih menyelimuti kasus tersebut.
Kabid Humas Polda Jawa Barat Kombes Hendra Rochmawan menyampaikan bahwa penyelidikan masih terus berlangsung. Menurutnya, penyidik saat ini fokus memeriksa para saksi, mengumpulkan barang bukti, menganalisis rekaman CCTV, serta menunggu hasil lengkap otopsi sebelum mengambil kesimpulan mengenai penyebab kematian korban.
Polda Jawa Barat juga mengimbau masyarakat agar tidak berspekulasi maupun menyebarkan informasi yang belum terverifikasi. Hingga kini, polisi belum menyimpulkan adanya unsur pidana dan masih mengedepankan proses penyelidikan berbasis bukti ilmiah untuk mengungkap fakta sebenarnya di balik kematian Sumarna, satpam yang ditemukan tewas dalam kondisi terborgol di Waduk Jatiluhur.
⚠️ WARNING ! Link berisi dokumentasi video/foto mengenai kematian, kekerasan tingkat tinggi, dan peristiwa tragis lainnya. Disarankan untuk melihat dengan hati-hati dan bijak.
🎬 DOKUMENTASI VIDEO (UNCENSORED):
Jika saat klik link mengarah ke situs lain atau ke iklan, langsung tekan kembali (back) dan klik ulang linknya untuk melihat video/foto tanpa sensor.
Membahas tentang kejadian kriminal, tragedi, dan berbagai macam peristiwa mengerikan yang terjadi di berbagai belahan dunia.