PEKALONGAN, CREEPY ROOM – Peristiwa dugaan penganiayaan terhadap empat remaja yang disebut-sebut sebagai anggota gangster atau kelompok kreak terjadi di Jalan Raya Ambokembang, Kecamatan Kedungwuni, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, Jumat (9/10/2026) dini hari. Insiden yang berlangsung di dekat Rumah Sakit Islam (RSI) Muhammadiyah Pekajangan tersebut menyebabkan satu remaja meninggal dunia, sementara tiga lainnya mengalami luka-luka.
Kasus ini menjadi perhatian setelah muncul dugaan bahwa kematian korban bukan semata-mata akibat kecelakaan lalu lintas, melainkan juga berkaitan dengan penganiayaan oleh sejumlah orang setelah kendaraan yang mereka tumpangi terjatuh. Polisi kini tengah menyelidiki rangkaian kejadian tersebut dan telah menetapkan empat orang sebagai tersangka dalam dugaan penganiayaan.
Kecelakaan Berujung Amuk Massa
Peristiwa bermula sekitar pukul 03.00 WIB ketika sekelompok remaja yang berboncengan menggunakan tiga sepeda motor melaju dengan kecepatan tinggi dari arah utara.
Saat melintas di sebuah tikungan di Jalan Raya Ambokembang, salah satu sepeda motor yang ditumpangi dua orang diduga kehilangan kendali. Kendaraan tersebut kemudian menabrak gerobak dan tiang listrik hingga kedua pengendaranya terjatuh.
Situasi setelah kecelakaan itu diduga berubah menjadi aksi kekerasan. Berdasarkan informasi yang dihimpun, kedua remaja yang terjatuh menjadi sasaran amuk massa setelah diketahui membawa senjata tajam jenis celurit.
Dalam kejadian tersebut, satu remaja meninggal dunia, sedangkan seorang lainnya mengalami luka serius. Tiga remaja lain yang disebut berada dalam rangkaian peristiwa itu juga dilaporkan mengalami luka-luka dan menjalani perawatan di rumah sakit.
Meski demikian, kronologi lengkap kejadian, termasuk bagaimana situasi berkembang setelah kecelakaan dan siapa saja yang terlibat dalam dugaan penganiayaan, masih didalami oleh kepolisian.
Remaja yang meninggal dunia dalam kejadian tersebut awalnya diidentifikasi berinisial RF, berusia 15 tahun, warga Pringrejo, Kota Pekalongan. Dalam perkembangan informasi berikutnya, RF, seorang siswa kelas IX SMPN 15 Kota Pekalongan.
Jenazah menjalani autopsi di RSI Muhammadiyah Pekajangan untuk mengetahui penyebab pasti kematiannya.
Dokter RSI Muhammadiyah Pekajangan, Safira Riskiyana, menjelaskan bahwa pada tubuh korban ditemukan sejumlah luka, terutama di bagian kepala, wajah, dan paha kanan.
“Ada (luka) di bagian kepala dan bagian muka. Kemungkinan ada patah di bagian tulang kepalanya. Kemungkinan akibat benda tumpul atau benturan. Kemudian di bagian paha kanannya juga ada patah,” kata Safira.
Temuan tersebut menjadi bagian penting dalam pemeriksaan medis. Namun, penyebab pasti kematian korban belum dapat dipastikan hanya berdasarkan kondisi luka yang terlihat dari luar. Hasil autopsi dan pemeriksaan lebih lanjut diperlukan untuk mengetahui mekanisme cedera serta kaitannya dengan kecelakaan maupun dugaan penganiayaan.
Ayah Korban Minta Kasus Diusut Tuntas
Di tengah proses penyelidikan, keluarga korban mempertanyakan penyebab kematian remaja tersebut. Eko Riyanto (37), ayah Reza, menduga anaknya tidak meninggal semata-mata akibat kecelakaan seperti informasi yang beredar di media sosial.
Kecurigaan itu muncul setelah Eko melihat adanya luka sayatan dan memar pada tubuh anaknya. Ia meminta kepolisian mengungkap secara jelas rangkaian kejadian yang menyebabkan putra satu-satunya tersebut meninggal dunia.
“Kami berharap ini diusut tuntas. Biar tidak ada kejanggalan. Ini tidak murni karena kecelakaan,” ujar Eko saat ditemui di rumah sakit.
Meski diliputi kesedihan, Eko juga menyampaikan penyesalan sebagai orang tua karena merasa belum mampu mengawasi anaknya dengan baik. Ia berharap peristiwa tersebut menjadi pengingat bagi para orang tua agar lebih memperhatikan pergaulan dan aktivitas anak-anak mereka.
“Jadi ke depannya biar tidak ada korban lain. Sebagai orang tua harus pengawasan penuh ke anak. Jangan seperti saya. Saya gagal sebagai orang tua,” tuturnya dengan suara terbata-bata.
Eko juga mengaku sempat merasakan kegelisahan pada malam sebelum mengetahui kabar kematian anaknya. Ia mengatakan sempat terbayang Reza sedang meminta pertolongan, meskipun saat itu ia berusaha mengabaikan perasaan tersebut.
“Selintas melihat dia minta tolong manggil-manggil saya. Esoknya saya dikabari anak saya sudah tidak ada di rumah sakit,” ungkapnya.
Pernyataan tersebut menggambarkan duka mendalam yang dirasakan keluarga. Sementara itu, untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi terhadap korban, penyidik masih mengumpulkan bukti dan menunggu hasil pemeriksaan medis.
Polisi Lakukan Autopsi dan Periksa Rekaman Video
Polres Pekalongan menangani kasus tersebut dengan mendalami dugaan penganiayaan yang terjadi setelah kecelakaan lalu lintas. Polisi belum langsung menyimpulkan penyebab kematian korban karena masih menunggu hasil autopsi.
KBO Reskrim Polres Pekalongan, Ipda Casminto, mengatakan pemeriksaan melibatkan tim kedokteran kepolisian dari Polda Jawa Tengah.
“Saat ini kami masih melakukan otopsi sehingga nanti bisa terkuak penyebab meninggalnya korban. (Kami melibatkan) Dokkes Polda Jawa Tengah,” kata Casminto.
Selain pemeriksaan medis, penyidik telah mengantongi sejumlah rekaman video yang merekam kejadian tersebut. Rekaman itu akan digunakan untuk membantu mengidentifikasi orang-orang yang berada di lokasi serta mendalami dugaan keterlibatan masing-masing pihak.
Polisi juga menegaskan bahwa apabila ditemukan bukti penganiayaan yang menyebabkan korban meninggal atau mengakibatkan korban lain terluka, pihak yang bertanggung jawab akan diproses sesuai ketentuan hukum.
Empat Orang Ditetapkan sebagai Tersangka
Perkembangan terbaru pada Sabtu (10/10/2026), Satreskrim Polres Pekalongan menetapkan empat orang sebagai tersangka dalam kasus dugaan penganiayaan yang menyusul kecelakaan tersebut.
Kasat Reskrim Polres Pekalongan, AKP Fauzi Surya Chandra, menyampaikan bahwa penetapan tersangka dilakukan setelah penyidik mendalami bukti-bukti yang tersedia, termasuk rekaman video kejadian.
“Sabtu (10/10) siang, penyidik menyampaikan bahwa empat orang sudah ditetapkan sebagai tersangka,” demikian keterangan terkait perkembangan penanganan kasus tersebut.
Meski demikian, kepolisian belum membeberkan secara terperinci identitas keempat tersangka maupun peran masing-masing dalam kejadian tersebut. Informasi yang tersedia juga belum menjelaskan secara lengkap latar belakang mereka, termasuk apakah mereka merupakan warga sekitar atau pihak lain yang berada di lokasi.
Penyidik menduga keempat tersangka terlihat dalam rekaman video dan turut melakukan penganiayaan terhadap tiga remaja lain setelah kecelakaan terjadi. Ketiga remaja tersebut dilaporkan masih menjalani perawatan di RSUD Kajen dan RSI Pekajangan.
Polisi masih perlu mencocokkan rekaman video dengan keterangan saksi, hasil pemeriksaan terhadap para tersangka, serta bukti-bukti lain untuk memastikan bentuk keterlibatan masing-masing orang.
Penetapan empat tersangka tersebut menjadi perkembangan penting dalam pengungkapan perkara. Namun, pertanggungjawaban pidana setiap orang tetap harus dibuktikan melalui proses hukum.
Hasil Autopsi Menjadi Kunci Pengungkapan
Hingga perkembangan terakhir yang disampaikan, penyidik masih menunggu hasil autopsi terhadap jenazah RF. Hasil pemeriksaan tersebut diharapkan dapat membantu menjelaskan penyebab kematian korban, termasuk jenis cedera yang dialami dan kemungkinan kaitannya dengan kecelakaan maupun dugaan kekerasan.
Temuan medis itu juga akan menjadi salah satu bahan pertimbangan penyidik dalam menentukan pasal yang dapat diterapkan terhadap para tersangka. Kepolisian membuka kemungkinan penambahan tersangka apabila ditemukan bukti baru yang menunjukkan keterlibatan pihak lain.
Dengan demikian, ada dua rangkaian peristiwa yang masih harus diungkap secara menyeluruh, yakni kecelakaan yang menyebabkan sepeda motor terjatuh dan dugaan penganiayaan terhadap para remaja setelah kejadian tersebut.
Polisi perlu memastikan bagaimana kecelakaan bermula, apa yang terjadi setelah para remaja terjatuh, siapa saja yang melakukan kekerasan, serta tindakan apa yang menyebabkan korban meninggal dunia.
Kasus di Jalan Raya Ambokembang ini menjadi pengingat bahwa dugaan pelanggaran atau kepemilikan senjata tajam tidak dapat dijadikan pembenaran untuk melakukan kekerasan secara bersama-sama. Apabila seseorang diduga melakukan pelanggaran hukum, penanganannya harus diserahkan kepada aparat berwenang.
Pengungkapan perkara diharapkan tidak hanya memberikan kejelasan bagi keluarga korban, tetapi juga memastikan bahwa setiap pihak yang terbukti terlibat dimintai pertanggungjawaban sesuai hukum yang berlaku.
DOKUMENTASI VIDEO
⚠️ WARNING !Tautan berisi dokumentasi video/foto mengenai kematian, kekerasan tingkat tinggi, dan peristiwa tragis lainnya. Disarankan untuk melihat dengan hati-hati dan bijak.
⚠️ CATATAN !Jika saat klik tautan mengarah ke situs lain atau ke iklan, langsung tekan kembali (back) dan klik ulang tautannya untuk melihat video/foto tanpa sensor.