Misteri Kematian Akseyna Ahad Dori Mahasiswa UI, 11 Tahun Berlalu Pelaku Masih Belum Terungkap

Depok – Lebih dari sepuluh tahun telah berlalu sejak kematian Akseyna Ahad Dori mengguncang lingkungan akademik Universitas Indonesia (UI). Namun hingga kini, penyebab pasti kematian mahasiswa Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) UI angkatan 2013 itu masih menyisakan tanda tanya besar dan menjadi salah satu kasus kematian mahasiswa paling misterius di Indonesia.

Akseyna, yang akrab disapa Ace, ditemukan meninggal dunia di Danau Kenanga, kawasan kampus Universitas Indonesia, Depok, pada 26 Maret 2015. Penemuan jasad mahasiswa berusia 18 tahun tersebut langsung mengundang perhatian publik karena sejumlah kejanggalan yang ditemukan di lokasi kejadian.

Saat ditemukan, tubuh Akseyna mengambang di danau dengan kondisi terikat batako serta membawa ransel berisi batu-batu. Awalnya, aparat penegak hukum menduga kematian tersebut merupakan kasus bunuh diri. Dugaan itu diperkuat dengan ditemukannya sebuah surat di kamar kos korban. Namun seiring berjalannya penyelidikan, berbagai fakta baru justru memunculkan keraguan terhadap kesimpulan tersebut.

Salah satu hal yang paling banyak dipertanyakan adalah kondisi Danau Kenanga yang memiliki kedalaman relatif dangkal di beberapa titik.

Selain itu, hasil pemeriksaan juga mengungkap adanya luka akibat benturan benda tumpul pada bagian kepala korban. Temuan-temuan tersebut memunculkan dugaan bahwa Akseyna kemungkinan tidak meninggal karena bunuh diri, melainkan menjadi korban tindak pidana. Dugaan pembunuhan pun semakin menguat di tengah minimnya jawaban yang berhasil ditemukan penyidik selama bertahun-tahun.

Perjalanan penyelidikan kasus ini terbilang panjang dan berliku. Dalam kurun waktu lebih dari satu dekade, berbagai upaya telah dilakukan aparat kepolisian untuk mengungkap penyebab kematian Akseyna. Namun hingga kini belum ada tersangka yang ditetapkan maupun motif yang berhasil diungkap secara resmi.

Kesulitan penyidik semakin besar karena sejumlah faktor. Salah satunya adalah keterlambatan identifikasi korban. Polisi mengungkapkan bahwa identitas Akseyna baru dapat dipastikan beberapa hari setelah jasad ditemukan. Rentang waktu tersebut dinilai menjadi hambatan dalam proses pengumpulan alat bukti dan rekonstruksi kejadian. Selain itu, pada saat peristiwa terjadi, tidak tersedia rekaman CCTV yang dapat membantu mengungkap aktivitas korban sebelum ditemukan meninggal dunia.

Tekanan publik dan perjuangan keluarga korban menjadi alasan utama kasus ini terus mendapatkan perhatian. Ayah Akseyna, Mardoto, selama bertahun-tahun aktif meminta aparat untuk tidak menghentikan pencarian kebenaran. Keluarga berulang kali menegaskan bahwa mereka hanya menginginkan kepastian mengenai apa yang sebenarnya terjadi pada putra mereka pada Maret 2015.

Harapan baru sempat muncul pada 2024 ketika Polres Metro Depok memutuskan membuka kembali penyelidikan kasus tersebut. Kapolres Metro Depok saat itu, Kombes Pol Arya Perdana, menyatakan bahwa penyelidikan akan dilanjutkan dengan meninjau ulang seluruh fakta dan kemungkinan adanya aspek yang terlewat dalam proses penyidikan sebelumnya. Polisi juga membentuk tim yang melibatkan para ahli dan membuka ruang kerja sama dengan Universitas Indonesia untuk membantu mengungkap misteri kematian Akseyna.

Pihak Universitas Indonesia menyatakan siap bersikap kooperatif dan memberikan dukungan apabila diperlukan, termasuk menghadirkan saksi maupun data yang dapat membantu proses penyelidikan. Langkah tersebut disambut positif oleh keluarga korban yang berharap adanya perkembangan nyata setelah hampir satu dekade kasus berjalan tanpa kepastian.

Meski demikian, hingga pertengahan 2026 belum ada pengumuman resmi mengenai terungkapnya pelaku maupun motif di balik kematian Akseyna. Kasus ini tetap berada dalam daftar perkara yang belum terselesaikan dan masih menjadi perhatian masyarakat luas.

Bagi banyak orang, kematian Akseyna bukan sekadar kasus kriminal yang belum terpecahkan. Peristiwa ini juga menjadi simbol pentingnya penegakan hukum yang transparan, profesional, dan berbasis bukti ilmiah. Di tengah perjalanan waktu yang terus berjalan, keluarga korban masih menanti jawaban yang sama: siapa yang bertanggung jawab atas kematian Akseyna Ahad Dori, dan apa yang sebenarnya terjadi di Danau Kenanga pada hari itu.

Sampai hari ini, pertanyaan tersebut masih belum terjawab. Namun harapan untuk mengungkap kebenaran belum sepenuhnya padam.

REKAMAN VIDEO

⚠️ WARNING !  Link berisi dokumentasi video/foto mengenai kematian, kekerasan tingkat tinggi, dan peristiwa tragis lainnya. Disarankan untuk melihat dengan hati-hati dan bijak.

🎬 LINK GAMBAR (UNCENSORED):
1. https://aceimg.com/tqHxCkFkv.jpg
2. https://aceimg.com/35PjVuDWA.jpg
3. https://aceimg.com/4cRSNKEjW.jpg

Jika saat klik link mengarah ke situs lain atau ke iklan, langsung tekan kembali (back) dan klik ulang linknya untuk melihat video/foto tanpa sensor.

Membahas tentang kejadian kriminal, tragedi, dan berbagai macam peristiwa mengerikan yang terjadi di berbagai belahan dunia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like

CREEPY ROOM adalah media informasi dan arsip dokumentasi kasus-kasus kelam dari berbagai belahan dunia. CREEPY ROOM menyajikan rangkuman insiden, kronologi, dan materi visual yang bersifat informatif serta kontekstual. Seluruh konten disusun untuk tujuan dokumentasi, referensi, dan edukasi.